28 February 2009

Temple Hian Thiam Siang Tee

Temple Hian Thiam Siang Tee ,

Welahan . jepara . jawa tengah .


Welahan Pagoda is called "Hian Thiam Siang Tee". It is located 24 km south of Jepara city center, exactly at Welahan village, Welahan Sub-district, Jepara District, a village with ancient Chinese heirloom and becoming one of the historic tourism assets in Jepara, where strongly standing two pagodas built by a Chinese traditional healer named Tan Siang Boe together with his elder brother named Tan siang Djie. Visiting for this tourism historic object, some asphalted road or infrastructure through which tourists can pass by and get on 2-wheeled or 4-wheeled vehicles or many other public transports, as the location is nearby Welahan traditional market.

HISTORY AND LEGEND

In 1830 the Dutch General Governor, Johanes Graaf Bosch reigning Indonesia, which was called as the Netherlands Indies Colonization at that time coming a Chinese from China called Tan Siang Boe. His leaving from China to Southeat Asia was to find his elder brother named Tan Siang Djie in Indonesia. Dewa Langit PagodaLeaving from China together in one boat was a Tasugagu who had meditated from Pho To San at Cinese land, as a meditative place of his excellency minister / emperor Hian Thiam Siang Tee during his trip and falling in sick, than with his solidarity and sympathy among people, Tan Siang Boe treated him with his medicines brought with from China, than he could cure Tasugagu's sickness. Gratefully for his treatment, while landing at Singapore, Tasu provided a gift in his express of thanks to Tan Siang Boe in the form of a bag with Tionggoan heirloom consisting of : a piece of Sien Tjhiang (smooth paper painted with His Excellency Hian Siang Tee), a stick of pokian (a Chinese sword), a Hio Lauw (place for dust from cremation), and a Tjioe Hwat (a book of medicine / forecast). After Tan Siang Boe arrived at Semarang, overnight staying in Kong Kwan's group house where he got an information that his elder brother was in Welahan Jepara, so he left for meeting Tan Siang Djie, his elder brother living together in a house with Liem Tjoe Tien's family.This house is located at a gangway along side Welahan and now used for keeping the heirloom called Pagoda as a place for praying and respected by each Chinese believing in. After some time ago, Tian Siang Boe staying with his elder brother in Welahan, once upon a time, he went to work for another place. In that case, the heirloom were entrustede to his elder brother considering that it was necessary to save the heirloom, so Tan Tjoe Tien entrusted the heirloom to the house owner, Liem Tjoe Tien, who always kept the heirloom up the balcony of his house. At that time, in general, he did not know what heirloomit was kept up the balcony. During the storage up the balcony, every 3rd of Sha Gwa's birth, i.e., Imlek of Seng Tan Djiet from Hian Thiam Siang Tee, the heirloom sparked a magic power like sparkling-out fire, sometime like a very marvelous fire-dragon and turtle that made the house settlers gor surprised. This event made him to call back Tan Siang Boe, the entrustee of the heirloom to Welahan to open the heirloom kept in the bag up the balcony. Opening and showing the heirloom to the members of the house settlers, he said that the heirloom were the relic from His Excellency Hian Thiam Siang Tee, so since then, the heirloom were praised according to the ancestor's custom and tradition. One day, Liem Tjoe Tian fallen in hard sickand it could be recovered by the magic power of the heirloom. With this event, mouth-to-mouth talk by people made the power famous, respected and praised among people believing in till now.Accordingly, the only heirloom of ancient Chinese for the first time coming into Indonesia as brought by Tan Siang Boe is that kept at Welahan, so it is believed that the existence of Welahan pagoda is the oldest one in Indonesia.With this existence of pagoda in Welahan, not only dominated by Chinese ethnic, but alsonatives coming frommany cities or peovinces asking for treatment, destiny, partners, planting and advancement in bussines, etc.


Kelenteng Hian Thian Siang Tee .

Kelenteng Hian Thian Siang Tee .
welahan , jepara jawa tengah .

Kelenteng Welahan yang diberi nama " Hian Thian Siang Tee " terletak 24 km kearah selatan dari pusat kota Jepara, di Desa Welahan Kecamatan Welahan Kabupaten Jepara, sebuah Desa yang menyimpan peninggalan kuno Tiongkok dan menjadi salah satu aset wisata sejarah di Jepara, dimana berdiri megah 2 buah kelenteng yang dibangun seorang tokoh pengobatan dari Tiongkok bernama Tan Siang Hoe bersama dengan kakaknya bernama Tan Siang Djie. Untuk menuju Obyek Wisata Sejarah ini didukung dengan berbagai prasarana diantaranya jalan beraspal dapat menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat atau angkutan umum yang lain, karena lokasi Obyek tersebut berdekatan dengan pasar Welahan .

LEGENDA DAN SEJARAH

Pada tahun 1830 dimana Gubernur Jendral Belanda Dewa Bumi Pagodayaitu Johanes Graaf Van Bosch berkuasa di Indonesia, yang pada waktu itu disebut penjajahan Hindia Belanda, datanglah seorang Tionghoa totok dari Tiongkok bernama Tan Siang Boe. Kepergiannya dari Tiongkok menuju ke Asia Tenggara tersebut perlu mencari saudara tuanya bernama Tan Siang Djie di Indonesia. Sewaktu berangkat dari Tiongkok bersamaan dalam satu perahu yang ada di dalamnya seorang Tasugagu " Pendeta " dimana Tasu tersebut habis bersemedi dari Pho To San di wilayah daratan Tiongkok, merupakan suatu tempat dimana pertapaan dari paduka menteri/ kaisa " Hian Thian Siang Tee ". Ditengah perjalanan tasu tersebut jatuh sakit, dengan rasa kesetia kawanan dan saling tolong menolong sesama manusia sehingga Tan Siang Hoe merawatnya dengan bekal obat – obatan yang dibawanya dari Tiongkok, ia dapat menyembuhkan penyakit yang diderita Tasugagu tersebut.
Dengan rasa berterima kasih atas kesembuhannya, sewaktu Tasu tersebut mendarat di Singapura memberikan tanda mata ucapan terima kasih kepada Tan Siang Boe berupa satu kantong " semacam tas " yang berisi barang – barang pusaka kuno Tiongkok yang terdiri dari : sehelai sien tjiang "kertas halus bergambar Paduka Hian Thiam Siang Tee", sebilah po kiam "pedang Tiongkok", satu hio lauw "tempat abu", dan satu jilid tjioe hwat "buku pengobatan / ramalan".



Dewa Langit PagodaSetelah Tan Siang Boe tiba di Semarang, menginap di rumah perkumpulan "Kong Kwan" memperoleh keterangan bahwa saudara tuanya / kakaknya ada di daerah Welahan Jepara, maka beliau pergi untuk menjumpai Tan Siang Djie di tempat tersebut.
Di sana beliau dapat berjumpa dengan saudara tuanya yang masih mondok berkumpul dalam satu rumah dengan keluarga Liem Tjoe Tien. Rumah tersebut masih ada terletak di Gang Pinggir Welahan dan rumah itu sampai sekarang dipergunakan tempat buat menyimpan pusaka kuno "klenteng"sebagai tempat pemujaan dan dihormati oleh setiap orang Tionghoa yang mempercayainya, setelah beberapa waktu lamanya, Tan Siang Boe menetap dengan kakaknya di Welahan, maka pada suatu hari pergilah ia bekerja di lain daerah, sedangkan barang yang berisi pusaka kuno tersebut dititipkan kepada kakaknya. Mengingat keselamatan akan barang-barang titipan tersebut maka oleh Tan Siang Djie barang tersebut dititipkan kepada pemilik rumah Liem Tjoe Tien yang selalu disimpan di atas loteng dari rumah yang didiami. Pada waktu itu, pada umumnya masih belum mengetahui barang pusaka apakah gerang yang tersimpan di atas loteng itu. Selama dalam penyimpanan di atas loteng tersebut setiap tanggal tiga yaitu hari lahir "sha gwe" yakni hari Imlex Seng Tam Djiet dari Hian Thiam Siang Tee, keluarlah daya ghaib dari barang pusaka tersebut mengeluarkan cahaya api seperti barang terbakar, sewaktu-waktu keluarlah ular naga dan kura-kura yang sangat menakjubkan bagi seisi rumah.
Dengan kejadian itu dipanggilah Tan Siang Boe yang semula menitipkan barang tersebut untuk kembali ke Welahan guna mebuka pusaka yang tersimpan di dalam kantong tersebut. Setelah dibuka dan diperlihatkan kepada orang-orang seisi rumah sambil menuturkan tentang asal mula barang tersebut sehingga ia dapat memiliki pusaka kuno Tiongkok. Dengan adanya asal mula pusaka tersebut maka orang-orang seisi rumah mempunyai kepercayaan bahwa pusaka kuno itu adalah wasiat peninggalan dari Paduka Hian Thiam Siang Tee maka dipujanya menurut adapt leluhur.


Pada suatu hari Lie Tjoe Tien sa
kit keras dan penyakitnya dapat disembuhkan kembali dengan kekuatan ghaib yang ada di pusaka, dengan kejadian itu maka dari percakapan mulut ke mulut oleh banyak orang sehingga pusaka itu dikenal namanya, dihormati, dan dipuja puja oleh orang yang mempercayainya hingga sekarang.
Menurut keterangan bahwa satu-satunya pusaka Tiongkok yang pertama kali di Indonesia yang dibawa oleh Tan Siang Boe pusaka tersebut yang tersimpan di Welahan sehingga ada perkataan lain bahwa keberadaan klenteng di Welahan adalah yang paling tua di Indonesia.
Dengan keberadaan klenteng yang berada di Welahan bukan hanya didominasi keturunan Tionghoa saja tetapi juga pribumi yang berdatangan dari berbagai kota maupun propinsi untuk memohon pengobatan, tanya nasib, jodoh, bercocok tanam, serta mohon maju dalam usahanya, dan sebagainya.




























27 February 2009

Kelenteng Hong Tiek Hian

Kelenteng Hong Tiek Hian



Menurut cerita yang beredar hingga saat ini, mengatakan bahwa Klenteng Hong Tiek Hian dibangun oleh tentara Tartar pada zaman Khu Bilai Khan pada awal pendirian kerajaan Majapahit. Klenteng Hong Tiek Hian juga merupakan klenteng paling tua di Surabaya yang dibangun di wilayah Chinese Kamp (Pecinan).

Tempat ibadah orang-orang Khong Hu Chu ini sangat ramai dikunjungi hampir setiap harinya. Setelah orang-orang Khong Hu Chu selesai melakukan sembahyang, mereka juga dapat menikmati pertunjukan wayang Pho Tee Hi dengan cerita-cerita Mandarin.

Kelenteng Hong Tiek Hian atau Kelenteng Dukuh , terletak di jalan Dukuh GG.II/ 2 dan jalan Dukuh N0.23/ i.

Kong Co di sini adalah :

Kong Tek Cun Ong .


Bila ingin lihat letak nya lihat :

http://wikimapia.org/10939447/id/Kelenteng-Hong-Tiek-Hian-kelenteng-kampung-dukuh

05 February 2009

Kelenteng Bukit Damai Sejahtera

Kelenteng Bukit Damai Sejahtera


letak : kotamobagu 3 jam dari Manado.
Kelenteng yg menggelilingi bukit .

kong conya Ma Tjo Thian Shang Shen Mu,/ bionya mak cho



1. Dari pintu masuk dari tangga



2. Pintu masuk dari depan


3 ) Kelenteng Bukit Damai Sejahtera . dari muka



4 ) Sen yg di tengah .Thian Shang Shen Mu






5 ) Sen yang di kanan Kong co Kon Tek Cun Ong,.
6 ) Sen yang di sebelah kiri Hok Tek Cen Sin.






dan itupun masih ada yang lagi dibangun diatas buat Dewi Kwan Im .
Dari : Ike Mulyo .
Sabtu, 31 Januari, 2009 11:03:25


03 February 2009

Pagoda WELAHAN

Tuesday, February 3, 2009

story pagoda WELAHAN





/the PERTAMA WORSHIPPER: the Hian Thian Siang Tee Temple available in the Welahan Village, Kecamatan Welahan, Jepara was talked about as the worshipper the God of Sky (Kongco Hian Thian Siang Tee) first in Indonesia. (33) - SM/Irawan Aryanto Irawan Aryanto

Almost always have difficulty in determining the oldest temple in Indonesia. No need to be too wide, for the available temple in Central Java, often emerged the controversy.

There are opinions that mention Gedong stone pagoda (Semarang) as the oldest. But there are other mentions in Rembang temple as the temple is older than Gedong Stone.

In fact, not all have the pagoda inscription or notes about the history of color. Stories from the mouth often also be a historical truth. At least that Suara Merdeka found that when the temple in the area of East Pantura WELAHAN to Lasem.

Yes, in the temple Hian Thian Siang Tee in the Village WELAHAN (Jepara), known as the temple is very old do not have any special notes. Instead of that, there is just a story from the mouth to mouth. Hear only the story of Sugandhi, Chairman Pusaka foundation that manages the temple.

a ship from China to move to the middle of the Banten dinakhodai by Tan Siang Woe. In the vessels there is a taosiu (the Tao) is a sudden illness. The captain of the caring for the sick to recover. Ships also continue to move up to Semarang, more than the destination.

As the gratitude, taosiu that granted many gifts to Tan Siang Woe: the Hian Thian Siang Tee statue, the book, kilong (a kind of umbrella), the whip dam a pair of sword.
He order that all the objects in-hoksai (treated).
But because the need to Banten, Tan Siang Woe commend all at Tan Siang Djie relatives who live in WELAHAN, Jepara. But that was told to forget did hoksai . So, perhaps the things that are often bizarre protest issue with the sounds and light.

So, especially iconography sky god (the god called medicine), a property seizure Tan Siang Woe family from generation to generation until finally go to the block owned and called someone from Semarang Tan Jong Tam. But again, the object as if protest.During the auction, Tan Jong Tam fall to bamboo blind eyes.

But''the statue remains in WELAHAN. And is now glorified in the main temple altar Hian Thian Siang Tee,''said Sugandhi alias Tee Siek Loan, the origin-story statue of the god muasal who adored in China, Taiwan, Malaysia, and Indonesia.

But indeed there is no entry when the temple was established in addition to the information call the pagoda temple devotee kongco (to a deity) Hian Thian Siang Tee first in Indonesia. Just a note, temple devotee of the god is the same temple Hian Thian Siang Tee in Jl Grajen Karanglo, Semarang and pagoda in Hok Sing Bio Bugangan, Semarang.

But actually, the word Sugandhi also the Chairman of the Foundation Pusaka (pagoda foundation managers), is the oldest pagoda in the temple about 100 meters next to it. That is, the temple Hok Bio Tech or good Earth Foundation which is also managed Pusaka. Unfortunately, the oldest temple is not enabled and used as a warehouse.Instead, a larger temple with altar worship the Earth god (Kongco Hok Tek Tjing Sia) was built next to it in 1980.

Serupa Similar

This same lack of historical records of the temple is also found in the temple Tjoe Bio TIK, in the Village Kauman, District Juwana, Pati. Place in a period of repression against the Indonesian government embraces Konghucu changed into a place of worship Buddha Avalokitisvara leaving only the story of mouth about the color.

Based on''the story, the traders from China who anchored in the harbor Juwana build this place and form a community here in Chinatown,''said Nyoman Adiharma, prominent Chinese people there.

''Might have been more than 200 years age,''said Edi Siswanto, the management of the Foundation Tjoe Bio TIK manage the temple.

From the architectural side, the temple was quite interesting Juwana. In addition berornamen typical Chinese gate, a pair of lions near the altar in the middle, and a pair LIONG on the roof, the pillars have decorations symbolize the life of the surrounding sea. Apa? What? Boat-shaped pillars. Moreover, in the main altar of worship, that figure is adored makco (for a goddess) Lamhay Kwan Im.

Kwan Im known as the Goddess Welas Asih in the treasury Buddhis called avalokitisvara characterized bersila beautiful female figures with flowers as a symbol Padma. But associated with the marine life, the pagoda was given the additional Lamhay which means''sea''.

Slightly different question about the historical record found in the temple Tjioe Hwie Desa Tasik kiong in Court (Rembang), Gie Yong Bio Babagan in the Village, Lasem (Rembang) and Poo An Bio Karangturi in the Village, Lasem (Rembang). In fact, the first temple which is located near the Port of Tasik Court notes there is a serious form of inscription in Chinese characters along with notes translated. With the main temple worship Makco Tian Siang Seng Poo Boo is established in the year of Dao Guang-to 21 (or 1841 years BC) with the inscription of sculpture Khay San Oei, Soen Kok Thay, and Kwee Tek Tjong.

In the temple of Gie Yong Bio been used as the typical pagoda Lasem ber kongco because the Chinese Lasem easier to trace its history in mind. The establishment is set in the temple''Babagan Lasem''recounts the heroic Chinese Lasem two brothers against Kompeni Netherlands, around 1742 BC.

An pagoda on Bio Poo, although there is no record in the Indonesian language and the only inscription in Chinese characters temple walls, but the SPD Ramlan KS, Bio Kong (temple guards) there, the place was built in 1810 with the main worship god or gods medicine fire named Kwee Sing Ong or Ong Kong TIK Cun.

So, knowing the history of the pagoda is not always a note that menemu. But beyond all that, the existence of a temple also took the life of color dynamics of the surrounding community.


Http://www.suaramerdeka.com/harian/0401/12/nas7.htm

Kelenteng Hian Thian Siang Tee

cerita kelenteng welahan


PEMUJA PERTAMA: Kelenteng Hian Thian Siang Tee yang ada di Desa Welahan, Kecamatan Welahan, Jepara disebut-sebut sebagai pemuja Dewa Langit (Kongco Hian Thian Siang Tee) pertama di Indonesia.(33) - SM/Irawan Aryanto

HAMPIR selalu ada kesulitan menentukan kelenteng tertua di Indonesia. Tak perlu terlalu luas, untuk kelenteng yang ada di Jateng saja, acapkali muncul kontroversi. Ada pendapat yang menyebut kelenteng Gedong Batu (Semarang) sebagai yang tertua. Tapi ada lagi lainnya yang menyebut kelenteng di Rembang sebagai kelenteng yang lebih tua dari Gedong Batu.

Pada kenyataannya, tak semua kelenteng memiliki catatan sejarah atau prasasti mengenai pendiriannya. Cerita dari mulut ke mulut sering pula dijadikan kebenaran sejarah. Setidaknya itu yang dijumpai Suara Merdeka ketika menyusuri kelenteng di wilayah pantura Timur dari Welahan hingga Lasem.

Ya, pada kelenteng Hian Thian Siang Tee di Desa Welahan (Jepara) yang dikenal sebagai kelenteng sangat tua pun tak memiliki catatan khusus. Alih-alih itu, yang ada hanyalah cerita dari mulut-ke mulut. Dengar saja cerita dari Sugandhi, Ketua Yayasan Pusaka yang mengelola kelenteng tersebut.

Syahdan, sebuah kapal dari Tiongkok tengah bergerak ke pelabuhan Banten dinakhodai oleh Tan Siang Woe. Di dalam kapal tersebut terdapat seorang taosiu (penganut Tao) yang mendadak sakit. Si nakhoda merawat si sakit itu hingga sembuh. Kapal pun terus bergerak hingga Semarang, lebih dari tujuan semula.

Sebagai balas budi, taosiu itu menganugerahi banyak hadiah kepada Tan Siang Woe: arca Hian Thian Siang Tee, buku, kilong (sejenis payung), cemeti dam sepasang pedang. Dia berpesan agar semua benda itu di-hoksai (dirawat). Tapi karena harus ke Banten, Tan Siang Woe menitipkan semuanya pada saudaranya Tan Siang Djie yang tinggal di Welahan, Jepara. Tapi yang dititipi alpa melakukan hoksai. Maka, konon benda-benda itu secara ajaib sering protes dengan mengeluarkan bunyi-bunyian dan cahaya.

Maka, khususnya arca Dewa Langit (ada yang menyebutnya Dewa Obat), menjadi benda rebutan keluarga Tan Siang Woe secara turun-temurun hingga akhirnya dilelang dan dimiliki seseorang dari Semarang bernama Tan Jong Tam. Tapi lagi-lagi, benda itu seakan-akan protes. Saat pelelangan, Tan Jong Tam kejatuhan bambu hingga buta matanya.

''Maka arca itu tetap di Welahan. Dan kini dipuja di altar utama Kelenteng Hian Thian Siang Tee,'' kata Sugandhi alias Tee Siek Loan, mengakhiri cerita asal-muasal arca dewa yang dipuja di Tiongkok, Taiwan, Malaysia, dan Indonesia.

Tapi memang tak ada catatan kapankah kelenteng itu didirikan selain informasi yang menyebut kelenteng itu kelenteng pemuja kongco (sebutan untuk dewa) Hian Thian Siang Tee pertama di Indonesia. Sekadar catatan, kelenteng pemuja dewa yang sama adalah Kelenteng Hian Thian Siang Tee di Jl Grajen Karanglo, Semarang dan Kelenteng Hok Sing Bio di Bugangan, Semarang.

Tapi sebenarnya, kata Sugandhi yang juga Ketua Yayasan Pusaka (yayasan pengelola kelenteng), kelenteng tertua adalah kelenteng yang ada di sekitar 100 meter sebelahnya. Yakni, Kelenteng Hok Tek Bio atau Dewa Bumi yang juga dikelola Yayasan Pusaka. Sayangnya, kelenteng paling tua itu sudah tak difungsikan dan dimanfaatkan sebagai gudang. Sebagai gantinya, kelenteng yang lebih besar dengan altar pemujaan Dewa Bumi (Kongco Hok Tek Tjing Sia) dibangun di sampingnya pada tahun 1980.

Serupa

Hal serupa yakni ketiadaan catatan sejarah pendirian kelenteng juga terdapat di Kelenteng Tjoe Tik Bio, di Desa Kauman, Kecamatan Juwana, Pati. Tempat yang di masa represi pemerintah Indonesia terhadap pemeluk Konghucu diubah menjadi tempat ibadah Buddha Avalokitisvara itu hanya menyisakan cerita dari mulut ke mulut seputar pendiriannya.

''Berdasarkan cerita, para pedagang dari Tiongkok yang berlabuh di Pelabuhan Juwana membangun tempat ini dan membentuk masyarakat pecinan di sini,'' ujar Nyoman Adiharma, tokoh orang Tionghoa di situ.

''Mungkin saja telah lebih dari 200 tahun usianya,'' ujar Edi Siswanto, pengurus Yayasan Tjoe Tik Bio yang mengelola kelenteng.

Dari sisi arsitektural, kelenteng di Juwana itu cukup menarik. Selain gerbang berornamen khas Tiongkok, sepasang singa di dekat altar tengah, dan sepasang liong di atap, ada hiasan bumbungan yang menyimbolkan kehidupan laut di sekitarnya. Apa? Bumbungan berbentuk kapal. Apalagi, di altar pemujaan utama, sosok yang dipuja adalah makco (sebutan untuk dewi) Lamhay Kwan Im.

Kwan Im dikenal sebagai Dewi Welas Asih yang dalam khazanah Buddhis disebut avalokitisvara bercirikan sosok perempuan cantik bersila dengan bunga padma sebagai simbol. Tapi dihubungkan dengan kehidupan laut, di kelenteng itu diberi tambahan Lamhay yang berarti ''laut''.

Agak berbeda mengenai soal catatan sejarah dijumpai pada Kelenteng Tjioe Hwie Kiong di Desa Tasik Agung (Rembang), Gie Yong Bio di Desa Babagan, Lasem (Rembang) dan Poo An Bio di Desa Karangturi, Lasem (Rembang). Bahkan, pada kelenteng pertama yang berada di dekat Pelabuhan Tasik Agung secara serius ada catatan berupa prasasti dalam huruf Cina beserta catatan terjemahannya. Kelenteng dengan pemujaan utama Makco Poo Tian Siang Seng Boo itu didirikan pada tahun Dao Guang ke-21 (atau tahun 1841 Masehi) dengan prasasti hasil pahatan Oei Khay San, Soen Kok Thay, dan Kwee Tek Tjong.

Pada Kelenteng Gie Yong Bio yang disebut-sebut sebagai kelenteng khas Lasem karena berkongco orang Cina Lasem lebih mudah diketahui jejak sejarahnya. Pasalnya, pendirian kelenteng itu termaktub dalam ''Babagan Lasem'' yang menceritakan kepahlawanan dua Cina Lasem bersaudara melawan Kompeni Belanda, sekitar tahun 1742 Masehi.

Pada kelenteng Poo An Bio, meskipun tak ada catatan dalam bahasa Indonesia dan hanya prasasti huruf Cina di dinding kelenteng, tapi menurut Ramlan KS SPd, Bio Kong (penjaga kelenteng) di situ, tempat itu dibangun tahun 1810 dengan pemujaan utama pada Dewa Obat atau Dewa Api bernama Kwee Sing Ong atau Kong Tik Cun Ong.

Jadi, memang mengetahui sejarah sebuah kelenteng tak selalu menemu catatan yang pasti. Tapi di luar semua itu, keberadaan sebuah kelenteng ikut pula mewarnai dinamika kehidupan masyarakat sekitarnya.


http://www.suaramerdeka.com/harian/0401/12/nas7.htm